H006. AQIQAH UNTUK ORANG YANG TELAH MENINGGAL DUNIA | IKATAN ALUMNI BATA-BATA (IKABA)

H006. AQIQAH UNTUK ORANG YANG TELAH MENINGGAL DUNIA

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Bolehkah aqiqah untuk orang yang sudah meninggal dunia?

JAWABAN :

waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Bila kita ilhaqkan (samakan) dengan kurban untuk orang yang telah meninggal maka terdapat pendapat yang memperbolehkan aqiqah pada anak dewasa yang telah meninggal karena aqiqah juga merupakan bagian daripada shadaqah dan shadaqah atas nama mayit adalah sah dan dapat memberi manfaat.

ولا) تضحية (عن ميت لم يوص بها) لقوله تعالى “وان ليس للانسان الا ما سعي ” فان اوصى بها جاز الى ان قال وقيل تصح التضحية عن الميت وان لم يوص بها لانها ضرب من الصدقة وهى تصح عن الميت وتنفعه اهـ

Tidak sah berkorban atas nama mayit yang tidak mewasiatkannya, karena firman Allah swt (artinya) :”Dan sesungguhnya bagi manusia hanyalah apa yang ia usahakan”. Jadi jika ia mewasiatkannya maka boleh sampai ungkapan Dikatakan : sah berkorban atas nama mayit walaupun dia tidak mewasiatkannya, karena berkurban merupakan bagian daripada shadaqah dan shadaqah atas nama mayit adalah sah dan dapat memberi manfaat. [ Mughni al-Muhtaaj IV/292-293 ].

Wallaahu A’lamu Bis showaab..

T029. HUKUM MINUM KOPI LUWAK | IKATAN ALUMNI BATA-BATA (IKABA)

T029. HUKUM MINUM KOPI LUWAK

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Bagaimana hukum kopi luwak yang diambil dari sisa kotoran musang?

JAWABAN :

waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Hukumnya boleh dimakan apabila masih berupa biji kopi asli (tidak hancur) seandainya ditanam bisa tumbuh lagi. dengan catatan wajib dicuci terlebih dahulu karena kopi tersebut mutanajjis.

Referensi :

1. Dalam kitab Majmu’ Syarah al-Muhazzab karya Imam al-Nawawi disebtukan :

ﻗﺎﻝ ﺃﺻﺤﺎﺑﻨﺎ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﺇﺫﺍ ﺃﻛﻠﺖ ﺍﻟﺒﻬﻤﻴﺔ ﺣﺒﺎ ﻭﺧﺮﺝ ﻣﻦ ﺑﻄﻨﻬﺎ ﺻﺤﻴﺤﺎ ﻓﺈﻥ ﻛﺎﻧﺖ ﺻﻼﺑﺘﻬﺎ ﺑﺎﻗﻴﺔ ﺑﺤﻴﺚ ﻟﻮ ﺯﺭﻉ ﻧﺒﺖ ﻓﻌﻴﻨﻪ ﻃﺎﻫﺮﺓ ﻟﻜﻦ ﻳﺠﺐ ﻏﺴﻞ ﻇﺎﻫﺮﻩ ﻟﻤﻼﻗﺎﺓ ﺍﻟﻨﺠﺎﺳﺔ ﻻﻧﻪ ﻭﺍﻥ ﺻﺎﺭ ﻏﺬﺍﺀ ﻟﻬﺎ ﻓﻤﺎ ﺗﻐﻴﺮ ﺍﻟﻰ ﺍﻟﻔﺴﺎﺩ ﻓﺼﺎﺭ ﻛﻤﺎ ﻟﻮ ﺍﺑﺘﻠﻊ ﻧﻮﺍﺓ ﻭﺧﺮﺟﺖ ﻓﺄﻥ ﺑﺎﻃﻨﻬﺎ ﻃﺎﻫﺮ ﻭﻳﻄﻬﺮ ﻗﺸﺮﻫﺎ ﺑﺎﻟﻐﺴﻞ ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻧﺖ ﺻﻼﺑﺘﻬﺎ ﻗﺪ ﺯﺍﻟﺖ ﺑﺤﻴﺚ ﻟﻮ ﺯﺭﻉ ﻟﻢ ﻳﻨﺒﺖ ﻓﻬﻮ ﻧﺠﺲ ﺫﻛﺮ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺘﻔﺼﻴﻞ ﻫﻜﺬﺍ ﺍﻟﻘﺎﺿﻰ ﺣﺴﻴﻦ ﻭﺍﻟﻤﺘﻮﻟﻰ ﻭﺍﻟﺒﻐﻮﻯ ﻭﻏﻴﺮﻫﻢ

“ Sahabat kami r.a. berkata, ‘Ketika binatang menelan sebuah biji, lalu keluar dari perutnya dalam keadaan utuh, maka harus dilihat dari kerasnya biji itu. Kalau kerasnya biji itu tetap dalam arti ketika biji itu ditanam lantas tumbuh, maka hukum biji itu suci. Tetapi wajib dicuci permukaan biji itu karena bersentuhan dengan najis. Karena, meskipun biji itu merupakan makanan binatang itu, tetapi biji tersebut tidak menjadi rusak. Ini sama halnya dengan biji yang ditelan binatang, lalu keluar dari duburnya, maka bagian dalam bijinya adalah suci dan suci kulit bijinya dengan dibasuh. Tetapi jika kekerasan biji itu hilang artinya ketika biji ditanam tidak tumbuh, maka hukum biji itu najis.’ Demikian disebutkan secara rinci. Begitulah dikatakan Qadhi Husein, al-Mutawalli, al-Baghawi, dan ulama lain.”

2. Dalam kitab Nihayatul Muhtaj karya Imam al-Ramli disebutkan :.

ﻧَﻌَﻢْ ﻟَﻮْ ﺭَﺟَﻊَ ﻣِﻨْﻪُ ﺣَﺐٌّ ﺻَﺤِﻴﺢٌ ﺻَﻠَﺎﺑَﺘُﻪُ ﺑَﺎﻗِﻴَﺔٌ ﺑِﺤَﻴْﺚُ ﻟَﻮْ ﺯُﺭِﻉَ ﻧَﺒَﺖَ ﻛَﺎﻥَ ﻣُﺘَﻨَﺠِّﺴًﺎ ﻟَﺎ ﻧَﺠِﺴًﺎ ، ﻭَﻳُﺤْﻤَﻞُ ﻛَﻠَﺎﻡُ ﻣَﻦْ ﺃَﻃْﻠَﻖَ ﻧَﺠَﺎﺳَﺘَﻪُ ﻋَﻠَﻰ ﻣَﺎ ﺇﺫَﺍ ﻟَﻢْ ﻳَﺒْﻖَ ﻓِﻴﻪِ ﺗِﻠْﻚَ ﺍﻟْﻘُﻮَّﺓِ . ﻭَﻣَﻦْ ﺃَﻃْﻠَﻖَ ﻛَﻮْﻧَﻪُ ﻣُﺘَﻨَﺠِّﺴًﺎ ﻋَﻠَﻰ ﺑَﻘَﺎﺋِﻬَﺎ ﻓِﻴﻪِ ﻛَﻤَﺎ ﻓِﻲ ﻧَﻈِﻴﺮِﻩِ ﻣِﻦْ ﺍﻟﺮَّﻭْﺙِ ، ﻭَﻗِﻴَﺎﺳُﻪُ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺒَﻴْﺾِ ﻟَﻮْ ﺧَﺮَﺝَ ﻣِﻨْﻪُ ﺻَﺤِﻴﺤًﺎ ﺑَﻌْﺪَ ﺍﺑْﺘِﻠَﺎﻋِﻪِ ﺑِﺤَﻴْﺚُ ﺗَﻜُﻮﻥُ ﻓِﻴﻪِ ﻗُﻮَّﺓُ ﺧُﺮُﻭﺝِ ﺍﻟْﻔَﺮْﺥِ ﺃَﻥْ ﻳَﻜُﻮﻥَ ﻣُﺘَﻨَﺠِّﺴًﺎ ﻟَﺎ ﻧَﺠِﺴًﺎ .

“Namun demikian, jika biji tersebut kembali dalam kondisi semula sekira ditanam dapat tumbuh maka hukumnya adalah mutanajjis, bukan najis. Karena itu, dapat difahami bahwa pendapat yang menyebutkan kenajisannya secara mutlaq kemungkinan jika tidak dalam kondisi kuat. Sementara itu, pendapat yang menyebut secara mutlaq sebagai mutanajjis kemungkinan dalam kondisi tetap, sebagaimana barang yang terkena kotoran lain. Yang serupa dengan biji-bijian adalah pada telur, maka jika keluar dalam kondisi utuh setelah ditelan dengan sekira ada kekuatan untuk dapat menetas, maka hukumnya mutanajjis bukan najis.”

3. Dalam Fathul Mu`in karya Zainuddin al-Malibari disebutkan :

ﻭﻟﻮ ﺭﺍﺛﺖ ﺃﻭ ﻗﺎﺀﺕ ﺑﻬﻴﻤﺔ ﺣﺒﺎ، ﻓﺈﻥ ﻛﺎﻥ ﺻﻠﺒﺎ ﺑﺤﻴﺚ ﻟﻮ ﺯﺭﻉ ﻧﺒﺖ، ﻓﻤﺘﻨﺠﺲ ﻳﻐﺴﻞ ﻭﻳﺆﻛﻞ، ﻭﺇﻻ ﻓﻨﺠﺲ

“Seandainya seekor binatang mengeluarkan kotoran atau memuntahkan biji-bijian, jika biji itu tersebut masih keras sekira kalau ditanam masih tumbuh, maka hukumnya adalah mutanajjis yang dapat dibasuh dan kemudian dimakan, tetapi jika tidak keras lagi, maka najis.

Wallahu a’lamu bisshowab..

S046. HUKUM MENGULANG BACAAN FATIHAH DALAM SATU RAKAAT | IKATAN ALUMNI BATA-BATA (IKABA)

S046. HUKUM MENGULANG BACAAN FATIHAH DALAM SATU RAKAAT

PERTANYAAN :

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Bagaimana hukumya mengulang-ulang bacaan di dalam shalat seperti mengulang bacaan fatihah?

JAWABAN :

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Mengulang baca Fatihah dalam satu rokaat, jika karena lupa maka tidak membahayakan sholatnya, jika sengaja mengulanginya maka ada dua pendapat :

1. pendapat yang shohih, yaitu tidak batal sholatnya.

2. batal sholatnya, sebab sama dengan mengulangi rukuk.

Referensi :

– kitab majmu’ (4/28) :

قال المصنف – رحمه الله تعالى – : ( وإن عمل في الصلاة عملا ليس منها نظرت فإن كان من جنس أفعالها بأن ركع أو سجد في غير موضعهما فإن كان عامدا بطلت صلاته ; لأنه متلاعب بالصلاة ، وإن كان ناسيا لم تبطل ; لأن النبي صلى الله عليه وسلم { صلى الظهر خمسا فسبحوا له وبنى على صلاته } ” فإن قرأ فاتحة الكتاب مرتين عامدا فالمنصوص أنه لا تبطل صلاته ; لأنه تكرار ذكر فهو كما لو قرأ السورة بعد الفاتحة مرتين ، ومن أصحابنا من قال : تبطل ; لأنه ركن زاده في الصلاة فهو كالركوع والسجود ) .

( الشرح ) هذا الحديث رواه البخاري ومسلم بمعناه من رواية عبد الله بن مسعود رضي الله عنه ، قال أصحابنا : إذا زاد فعلا من أركان الصلاة عمدا بطلت صلاته ، وإن كان سهوا لم تبطل بركن ولا أركان ولا ركعة ولا أكثر للحديث ولأنه لا يمكن الاحتراز منه فإن قرأ الفاتحة مرتين سهوا لم يضر ، وإن تعمد فوجهان الصحيح المنصوص لا تبطل ; لأنه لا يخل بصورة الصلاة ( والثاني ) : تبطل كتكرار الركوع ، وهذا الوجه حكاه إمام الحرمين عن أبي الوليد النيسابوري من متقدمي أصحابنا الكبار ، تفقه على ابن سريج وحكاه صاحب العدة عن أبي علي بن خيران وأبي يحيى البلخي، قال : وحكاه الشيخ أبو حامد عن القديم ، والمذهب : أنها لا تبطل ، وبه قال الأكثرون ، وكذا لو كرر التشهد الآخر والصلاة على رسول الله صلى الله عليه وسلم عمدا لا تبطل ; لما ذكرناه ، قال المتولي وغيره : وإذا كرر الفاتحة – وقلنا : لا تبطل صلاته – لا يجزيه عن السورة بعد الفاتحة .

Hukumnya mengulang-ulang bacaan dalam shalat ada yang yang dianjurkan dan ada yang tidak dianjurkan.

Adapun mengulang-ulang bacaan yang dianjurkan yaitu:

bacaan سبحان ربي العظيم وبحمده ketika rukuk menimal adalah 3x sedangkan maksimalnya adalah 11x.

dan juga bacaan
سبحان ربي الأعلى وبحمده
ketika sujud minimal 3x dan maksimalnnya adalah 11x.

Sedangkan mengulang bacaan fatihah tidak diperkenankan karena tidak ada hadits yang menjelaskan tentang adanya anjuran mengulang fatihah bahkan jika mengulanya berati telah berpaling dari sunnah
(خلاف ماورد في السنة)
Tetapi jika bacaan surat
setelah fatihah bagi shalat 4 rakaat , dirakaat yang pertama dan kedua dianjurkan bahkan hukumnya sunnah. Oleh karenanya kita melakukan shalat tidak semerta-merta melakukan shalat melainkan meniru Rasulullah SAW,
sebagaimana beliau telah memberikan contoh Rasulullah SAW, bersabda :
صلوا كما رأيتمواني أصلي
“Salatlah kamu sekalian sebagaimana kamu sekalian melihat aku melakukan salat”.

Anjuran bacaan surat dan yang tidak dianjurkannya mengulang-ulanlang fatihah sebagaimana ibarot berikut;

Referensi :

مغنى المحتاج :

(وَتُسَنُّ) لِلْإِمَامِ وَالْمُنْفَرِدِ (سُورَةٌ) يَقْرَؤُهَا فِي الصَّلَاةِ (بَعْدَ الْفَاتِحَةِ) وَلَوْ كَانَتْ الصَّلَاةُ سِرِّيَّةً (إلَّا فِي الثَّالِثَةِ) مِنْ الْمَغْرِبِ وَغَيْرِهَا (وَالرَّابِعَةِ) مِنْ الرُّبَاعِيَّةِ (فِي الْأَظْهَرِ) لِلِاتِّبَاعِ فِي الشِّقَّيْنِ رَوَاهُ الشَّيْخَانِ، وَمُقَابِلُ الْأَظْهَرِ دَلِيلُهُ الِاتِّبَاعُ فِي حَدِيثِ مُسْلِمٍ، وَالِاتِّبَاعَانِ فِي الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ، وَيُقَاسُ عَلَيْهِمَا غَيْرُهُمَا، وَالسُّورَةُ عَلَى الثَّانِي أَقْصَرُ كَمَا اشْتَمَلَ عَلَيْهِ الْحَدِيثُ، وَسَيَأْتِي آخِرَ الْبَابِ سُنَّ تَطْوِيلُ قِرَاءَةِ الْأُولَى عَلَى الثَّانِيَةِ فِي الْأَصَحِّ، وَكَذَا الثَّالِثَةُ عَلَى الرَّابِعَةِ عَلَى الثَّانِي.
قَالَ الشَّارِحُ: ثُمَّ فِي تَرْجِيحِهِمْ الْأَوَّلَ تَقْدِيمٌ لِدَلِيلِهِ النَّافِي عَلَى دَلِيلِ الثَّانِي الْمُثْبِتُ عَكْسَ الرَّاجِحِ فِي الْأُصُولِ لِمَا قَامَ عِنْدَهُمْ فِي ذَلِكَ .
وَيَظْهَرُ أَنَّهُمْ إنَّمَا قَدَّمُوهُ لِتَقْوِيَتِهِ بِحَدِيثِ الصَّحِيحَيْنِ عَنْ أَبِي قَتَادَةَ – رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ – «كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَقْرَأُ فِي الظُّهْرِ بِالْأُولَيَيْنِ بِأُمِّ الْكِتَابِ وَسُورَتَيْن, وفي رَكْعَتَيْنِ الْأَخِيْرَتَيْنِ، بِأُمِّ الْكِتَاب وَيُسْمِعُنَا الأية أَحْيَانًا، وَيُطَوّلُ فِي الرَّكْعَةِ الْأولٰى مَا لاَيُطوّلُ فِيِ الثَّانيةِ وَكذَا في العصر ،وهكذا فِي الصُّبْحِ>> وَإِنَّما لَمْ تَجِبْ السّورة لحديثٍ << أُمُّ القرآنِ عوضٌ مِن غَيْرها وَليسَ غيرها عوَضاً مِنْهاَ رواه الحاكم. وقال :إنه على شرطهماِ.

Wallahu a’lamu bisshowab

S041. HUKUM MEMBAWA ANAK KECIL KE DALAM MASJID | IKATAN ALUMNI BATA-BATA (IKABA)

S041. HUKUM MEMBAWA ANAK KECIL KE DALAM MASJID

PERTANYAAN :

Asslamu alaikum Ustadz..

Diskripsi :
sekarang lagi viral bahwa ada masjid yang melarang orang tua membawa anknya di bawah umur lima tahun.

Pertanyaannya :

1. Bolehkah anak-anak main/ dibawa ke dalam masjid?

2. Bagaimna hukum orang tua/siapapun yang melarang anak2 main di masjid?

Atas jawabannya terimakasih..

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

Jawaban untuk No.1 Tafsil :

a. Bermain didalam masjid bagi Anak Anak hukumnya Haram

b. Adapun membawa Anak ke Dalam masjid hukumnya Boleh Selama tidak mengotori masjid, mengganggu jemaah Dan membuka aurat.

ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻴﺔ ﻗﺎﻟﻮ: ﻳﺠﻮﺯ ﺍﺩﺧﺎﻝ ﺍﻟﺼﺒﻲ ﺍﻟﺬﻯ ﻻ ﻳﻤﻴﺰ ﻭ ﺍﻟﻤﺠﺎﻧﻴﻦ ﺍﻟﻤﺴﺠﺪ ﺍﻥ ﺍﻣﻦ ﺗﻠﻮﻳﺜﻪ ﻭ ﺍﻟﺤﺎﻕ ﺿﺮﺭ ﺑﻤﻦ
ﻓﻴﻪ، ﻭ ﻛﺸﻒ ﻋﻮﺭﺗﻪ، ﻭ ﺍﻣﺎ ﺍﻟﺼﺒﻲ ﺍﻟﻤﻤﻴﺰ ﻓﻴﺠﻮﺯ ﺍﺩﺧﺎﻟﻪ
ﻓﻴﻪ ﺍﻥ ﻟﻢ ﻳﺘﺨﺬﻩ ﻣﻠﻌﺒﺎ ﻭ ﺍﻻ ﺣﺮﻡ

ﺍﻟﻔﻘﻪ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻤﺬﺍﻫﺐ ﺍﻻﺭﺑﻌﺔ ١/٢٦١

ibaroh dari mughnil muhtaj :

قال الشافعي والأصحاب: ويؤمر الصبي بحضور المساجد وجماعات الصلاة ليعتادها

Imam Syafi’i dan ashab berkata; anak kecil supaya diperintah datang ke masjid dan jama’ah sholat agar terbiasa.

Dari Musnad ahmad :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ كُنَّا نُصَلِّي مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْعِشَاءَ فَإِذَا سَجَدَ وَثَبَ الْحَسَنُ وَالْحُسَيْنُ عَلَى ظَهْرِهِ فَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ أَخَذَهُمَا بِيَدِهِ مِنْ خَلْفِهِ أَخْذًا رَفِيقًا وَيَضَعُهُمَا عَلَى الْأَرْضِ فَإِذَا عَادَ عَادَا حَتَّى إِذَا قَضَى صَلَاتَهُ أَقْعَدَهُمَا عَلَى فَخِذَيْهِ

Dari kanzul ‘ummal :

جنبوا مساجدكم صبيانكم ومجانينكم وسل سيوفكم وإقامة حدودكم ورفع أصواتكم وخصوماتكم وأجمروها في الجمع واجعلوا على أبوابها المطاهر

Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa suatu hari Rasulullah SAW sedang mengerjakan shalat. Tiba-tiba Al-Hasan dan Al-Husain datang dan menaiki punggung beliau bersama-sama. Ketika hendak mengangkat kepala dari sujud, beliau mengangkat kedua cucunya itu perlahan-lahan dan saat beliau kembali sujud, keduanya kembali menaiki punggung Utusan Tuhan itu. Selesai shalat, Rasulullah (s.a.w) meletakkan salah satunya di pangkuan kanan dan yang lain di pangkuan kirinya.

Rasulullah (s.a.w) pernah berdiri di atas mimbar dan menyampaikan ceramahnya. Tiba-tiba Al-Hasan dan Al-Husain datang dan mendekati beliau. RasulullahSAWW segera turun dari mimbar dan mengangkatmereka berdua. [Bihar Al-Anwar 43:261]

Hadits ini menunjukkan Nabi tidak melarang anak kecil masuk masjid, karena beliau shalat dan ceramah diatas mimbar, tentunya itu dilakukan di dalam masjid.

Jawaban untuk No.2 :

Wajib karena masjid bukan tempat Bermain.

فيجوز ادخاله فيه ان لم يتخذه ملعبا والاحرم. إھ

Wallahu a’lamu bisshowab..

S039. HUKUM MENJAMAK SHALAT KARENA TERJEBAK MACET DI JALAN | IKATAN ALUMNI BATA-BATA (IKABA)

S039. HUKUM MENJAMAK SHALAT KARENA TERJEBAK MACET DI JALAN

PERTANYAAN :

Assalamualaikum Ustadz..

Saya penduduk kota yg rawan macet. suatu ketika saya nyetir mobil dlm perjalanan menuju tempat kerja yg tak begitu jauh dari rumah saya namun kena macet sehingga masuk waktu sholat, sehingga :
– Tidak bisa turun dari mobil
– Tidak bisa ambil wudhu

Pertanyaannya :

1-Bagaimana caranya agar bisa sholat?

2-Bolehkah sy niat menjamak sholat (kalau sholat yg bisa dijamak) padahal sy bukan musafir.

Mohon penjelasannya berikut dalilnya..

JAWABAN :

Waalaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh..

1. Jawaban untuk pertanyaan yang pertama.

Orang yg tidak bisa turun dari mobil, dan orang itu tidak punya wuduk, dan jalannya macet, dan didalam mobil tidak ada debu yang bisa digunakan untuk bertayammum, maka hal tersebut disebut faaqiduththohuuroini (فاقد الطهورين), sama halnya dengan orang yang dipenjara dalam ruangan yang tidak ada air untuk wuduk dan tidak ada debu untuk tayammum, dia tetap wajib shalat dalam keadaan tersebut seadanya dengan sholat lihurmatil waqti:
Umpama niat shalat Dzuhur

(اصلي فرض الظهر لحرمۃ الوقت )

Namun ketika sudah menemukan air atau debu baik masih dalam perjalanan atau dirumah, maka orang itu harus mengqodho’ (mengganti) sholat duhurnya dengan cara berwuduk memakai air atau dengan cara bertayammum memakai debu (jika tidak ada air).

Referensi:

فاقد الطهورين هو الذي لم يجد ماء ولا صعيدا يتيمم به ، كأن حبس في مكان ليس فيه واحد منهما ، أو في موضع نجس ليس فيه ما يتيمم به ، وكان محتاجا للماء الذي معه لعطش ، وكالمصلوب وراكب سفينة لا يصل إلى الماء ، وكمن لا يستطيع الوضوء ولا التيمم لمرض ونحوه .فذهب جمهور العلماء إلى أن صلاة فاقد الطهورين واجبة لحرمة الوقت ولا تسقط عنه مع وجوب إعادتها عند الحنفية والشافعية ، ولا تجب إعادتها عند الحنابلة ، أما عند المالكية فإن الصلاة عنه ساقطة على المعتمد من المذهب أداء وقضاء

Faqidut Thahuurain adalah Orang yang tidak mendapati sarana untuk bersuci baik berupa air atau debu seperti saat ia dipenjara dan tidak mendapati salah satu dari keduanya, atau ditempat najis yang tidak ia dapatkan debu untuk bersuci sementara air yang ada dibutuhkan untuk dahaganya orang yang bersamanya, orang yang sedang disalib atau berada diperahu yang tidak dapat meraih air dan seperti orang sakit yang tidak mampu menjalani wudhu atau tayammum sebab sakit atau semacamnya, maka mayoritas ulama mewajibkan hukum shalat baginya sekedar penghormatan terhadap waktu, hukum kewajiban shalat tidak semata-mata gugur baginya namun baginya wajib mengulangi shalat yang ia kerjakan dalam kondisi demikian menurut kalangan Hanafiyyah dan Syafi’iyyah, sedang menurut kalangan hanabilah tidak wajib mengulangi shalatnya. Menurut pendapat yang mu’tamad (dapat dijadikan pegangan) dikalangan Malikiyyah seseorang yang dalam kondisi diatas shalatnya gugur dan dalam pendapat lainnya wajib menjalani dan mengqadhainya. [ Al-Mausuuah al-Fiqhiyyah 14/273 ].

Referensi lain:

(المجموع شرح المهذب,جز ٢,صحيفۃ ٣۰٣-٣۰٤) واما حكم المسئلۃ: فإذا لم يجد المكلف ماء ولا ترابا بأن حبس في موضع نجس او كان في ارض ذات وحل ولم يجد ماء يجففه به او ما اشبه ذلك ففيه اربعۃ اقوال حكاها اصحابنا الخراسانيون. (احدها) يجب عليه ان يصلي في الحال علی حسب حاله ويجب عليه الاءعادۃ اذا وجد ماء او ترابا في موضع يسقط الفرض فيه بالتيمم. وهذا قول هو الصحيح الذي قطع به كثيرون من الاءصحاب او اكثرهم وصصحه الباقون وهو المنصوص في الكتب الجديدۃ. (والثاني )لا تجب الصلاۃ بل تستحب ويجب القضاء,سواء صلی ام لم يصل حكوه عن القديم,وحكاه الشيخ ابو حامد وغيره من العراقيين (والثالث),يحرم عليه الصلاۃ ويجب القضاء حكاه الاءمام الحرمين وجماعۃ من الخراسنيين عن القديم. (والرابع)تجب الصلاۃ في الحال علی حسب حاله ولا تجب الاءعادۃ,حكاه عن القديم ايضا,وستاءتي ادلۃ هذه الاءقوال في فرع مذاهب العلماء ان شاء ﷲ تعالی ,انتهی,

2. Jawaban untuk pertanyaan yang kedua

Ketika seseorang dalam situasi faaqiduththohuuroini maka yang diterapkan tetap penjelasan yang pertama, namun ketika seseorang dalam keadaan suci dari najis dan hadats dan memungkinkan mengerjakan shalat, maka dalam situasi tertentu boleh menjamak shalat, sebagaimana uraian berikut;

Dalam Kitab Bughyatul Mustarsyidin hal. 77 disebutkan :

(فائدة) لنا قول بجواز الجمع في السفر القصير اختاره البندنيجي. وظاهر الحديث جوازه في حضر كما في شرح مسلم. وحكى الخطابي عن ابي اسحاق جوازه في الحضر للحاجة وإن لم يكن خوف ولا مطر ولا مرض. وبه قال ابن المنذر ا.هـ

(Faidah)
Kami berpendapat boleh menjamak shalat bagi orang yang menempuh perjalanan singkat yang telah dipilih oleh Syekh Albandaniji. Sebuah hadits dengan jelas memperbolehkan melakukan shalat jamak bagi orang yang bukan musafir sebagaimana yang tercantum dalam Syarah Muslim. Alkhatthabi menceritakan dari Abu Ishak tentang bolehnya menjamak shalat dalam perjalanan singkat karena suatu keperluan/hajat meskipun tidak dalam kondisi keamanan terancam, hujan lebat, dan sakit. Ibnul Munzir juga memegang pendapat ini,”